Wednesday, March 01, 2006

Terus atau Batal

Kadang kita dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Sebuah pilihan yang harus diambil salah satu, istilah matematiknya mutually exclusive. Keadaaan ini kita hadapi sehari hari. Seorang lelaki yang berpikir untuk nembak cewenya, atau sang cewe untuk memutuskan menerima pinangan pacarnya. Kenapa kita begitu pusing bahkan sampai gundah untuk mengambil keputusan? Karena setiap pilihan memiliki
implikasi yang jelas dan berbeda.

Hal yang mirip saat pilot harus memutuskan untuk lanjut atau membatalkan take off (go or no go) ketika menghadapi kegagalan mesin (engine failure) pada ground run. Tidak semua kegagalan mesin membawa kepada keputusan menggagalkan take off. Ada sebuah parameter penentu yaitu decision speed atau dikenal dengan V1.

Jika mesin mati sebelum V1 tercapai maka take off harus digagalkan karena jika dipaksa untuk terus dapat saja tidak memenuhi syarat kecepatan dan melewati obstacle diujung landasan terutama jika jarak landasan terbatas. Sebaliknya, jika mesin mati saat pesawat sudah melewati V1, maka pesawat harus meneruskan take off untuk kembali landing. Jika dipaksa untuk dibatalkan, pesawat dapat terperosok diujung landasan karena tidak cukup jarak untuk pengereman.Kesulitannya adalah, akurasi perhitungan V1 yang bervariasi atas lokasi, berat dan kondisi cuaca saat take off sangat menentukan.

Selain itu keputusan harus diambil dalam satuan detik. Pesawat 737-400 bergerak dengan kecepatan 200 - 303 km/jam. Artinya 84 meter per detik. Kalau telmi alias telat sadar situasi dan ambil keputusan...bisa saja wanita idamannya disabet orang lain yang mengambil keputusan lebih cepat:P(Bukan pengalaman pribadi loh)=

0 Comments:

Post a Comment

<< Home