Tuesday, February 28, 2006

Tujuan Hidup Pesawat

Pernahkah anda membayangkan tujuan hidupnya pesawat?
Kenapa si pesawat selalu harus mencari bandara untuk mendarat?
Ada sebuah joke dikalangan industri ini "Every take off is optional, but every landing is mandatory"

Tujuan hidup pesawat adalah pom bensin.
Lho kok?
Bagaimana tidak, konsumsi bahan bakar pesawat memang besar. Kondisinya saat ini, besarnya biaya fuel yang harus dikeluarkan berkisar 40-50% dari direct operating cost. Akhir tahun 2004, fuel masih dalam kisaran Rp.2300 dan saat ini diatas Rp.5000. Harga fuel terus meroket dan tentu saja dampaknya pada peningkatan biaya sangat besar. Belum lagi sifatnya yang berfluktuasi dapat menciptakan ketidak menentuan sendiri. Memang dapat dilakukan hegding atas fuel, tapi ini hanya untuk meredam ketidakstabilan harga dan lonjakan biaya yang tak terduga sewaktu waktu.
Apa sih yang dapat dilakukan oleh airlines untuk menyikapinya?
Hanya ada satu jawaban dari sisi operasional: EFISIENSI
Darimanakah itu datangnya:
1. Pemilihan pesawat
Milih pesawat seperti memilih istri, pacar dan selingkuhan. Airlines harus mencocokkan jenis pesawat yang harus digunakan disesuaikan dengan rute yang diterbanginya. Lebih jauh lagi dimana dia akan mendarat. Susah memang mencari pesawat yang bisa khusus mendarat di sungai Bengawan Solo. Tapi kalau memang itu rutenya, apa boleh buat. Ada pesawat yang efisien di saat sedang cruising pada ketinggian tertentu, ada juga yang efisien untuk take off.
Secara overall, pesawat keluaran baru membutuhkan bahan bakar yang lebih sedikit. Hanya apakah penghematannya seimbang dengan harga atau sewa pesawatnya harus dihitung lebih lanjut.
Ibaratnya, mungkin pesawat A tidak butuh maintenance besar hanya harga nya mahal didepan, atau terus merongrong sepanjang tahun dan minta diperhatikan (seperti selingkuhan atau istri ya?)

2. Cara naruh pantat
Paradigma saat ini masih seputar bagaimana meletakkan beban dalam batas kestabilan. Kedepannya, airlines harus memperhatikan bagaimana menentukan tempat duduk penumpang dan kargo yang diangkutnya. Penumpang dan kargo dapat saja ditaruh di sembarang tempat asal stabil. Tetapi efeknya adalah konsumsi bahan bakar.semakin stabil, bahan bakar yang diperlukan semakin besar.

3. Jumlah bahan bakar yang diangkut
Fuel yang dibutuhkan bukan saja untuk menerbangi sebuah rute, tetapi juga ada regulasi yang mengatur besarnya minimum yang harus dipenuhi. Jika airlines menerapkan safety factor yang berlebihan, dampaknya adalah beban yang semakin besar sehingga bahan bakar yang dibutuhkan juga makin besar. Perhitungan besarnya fuel yang dibutuhkan harus presisi. Setiap penambahan bahan bakar yang tidak perlu
dapat diartikan sebagai biaya extra yang harus dikeluarkan percuma.

4. Cara mengemudi
Pernahkah anda melihat pilot kebut kebutan diudara?atau di runway, saat gadis seksi berbaju merah mengibarkan saputangannya, kemudian gas digenjot sampai mentok sedemikian rupa agar cepat melesat?Memang tidak seperti itu gambarannya, namun, besarnya power yang dibutuhkan bergantung kepada beban yang dibawa dan dimana runway yang dijalani. Jika pilot mengaplikasikan hal hal yang terlihat sederhana ini, efek terhadap penghematan bahan bakar dapat dicapai.

5. Flight Plan
Ketika kita hendak berpergian, jalur yang akan dilalui sudah terbayang dan direncakan sebelumnya. Apalagi busway yang rutenya tertentu. Begitu juga dengan pesawat. Kaitannya adalah semua variabel yang berpengaruh kepada penerbangan harus dimasukkan sebagai landasan perencanaan. Termasuk besarnya bahan bakar yang dibutuhkan dimana efeknya seperti pada poin 3 diatas.

Jika semua efisiensi dengan sentuhan teknologi tersebut dijalankan, mungkin tiket dapat lebih murah lagi. Paling tidak, Airlines dapat memperlebar rentang kompetisinya.
=

0 Comments:

Post a Comment

<< Home