Tuesday, February 28, 2006

Ijin Sakit

Jam mobil menunjukkan pukul 1614 UTC.
Hari hampir berganti diJakarta.
Kudengar semilir suara nanyian,"ular naga panjangnya
bukan kepalang,...""Loh, msh ada permainan jaman ku kecil, tapi kok tengah malam?",pikirku.
Oh, bukan anak anak kecil rupanya, melainkan mobil2
dalam berbagai bentuk dan merek sedang antri BBM.
dan panjang seperti ular naga tadi. Hampir tiap titik mata airBBM dikerubungi.
Bayangan tempat tidur lebih menggiurkandaripada antrian. Kuputuskan untuk mengisinya esok hari saja.

Hari ini, rutinitasku berjalan seperti biasa, dan harus isi bensin, yah seperti biasa.
Tetapi macet dimana mana. Ini benarbenar tidak biasa. 6 SPBU kulewati karena terlalu panjang antrian menurutku. AKhirnya aku ikut antri di SPBU ke tujuh, walau sebenarnya masih cukup utk menggapai SPBU berikutnya. DUniaku yang menuntutsafety factor tinggi sepertinya terbawa bawa dalam mengambilkeputusan. Tak lama, ada 2 orang mengusung papan yang kupikir peserta demonstrasi. Padahal sangat jauh dari bundaran HI dan Istananegara. Ternyata mereka membawa tulisan: BENSIN HABIS.
Hahahaha, Aku mentertawakan diriku sendiri.
Berbagai pemberitaan dan rumor ternyata berhasil merasuki ketempat paling dalam otakku. Dan akupun seperti orang lain, ketakutan yang dibentuk dirinya sendiri.

Akhirnya kuteruskan perjalanan hingga sebuah titik aku harus isi bensin karena sudah dibawah level aman. Jika tidak kuisi sekarang, dijamin, aku harus mendorong mobil ini.
Antrian maju sesenti per 5 menit. Buku buku dimobil kubaca satu per satu, majalah, Strategic Management, Blue Ocean Strategy.Semuanya malah makin membuat jenuh. Tiba tiba aku rindu Termodinamika. Jika saja dahulu simbah Carnot dan kawan kawannya melakukan riset bukan pada hidrokarbon, mungkin saat ini tak akan terjadi fenomena ular naga panjangnya. Kalau saja bahan bakar itu terbuat dari air, atau daun singkong bahkan tepung beras, mungkin tidak ada rush.
Bangsaku yang besar ini memiliki kecenderungan untuk oportunis dan hidup dari ketakutan ketakutan semu. Sedikit saja isu mengemuka, maka perilaku negatif pun mencuat berkali lipat. Ah, cape memikirkannya, kupikir bangsa ini telah sakit jiwa.

Akupun meneruskan khayalan, kalau perlu air seni pun dapat mengikuti siklus mesin Carnot, sehingga tak perlu pusing buang air kecil ditengah kemacetan Jakarta ini. Toh lobangnya pun pas.
Setelah dua jam, giliranku pun tiba. Tetapi hanya boleh isi 50ribu. "ini keputusan managemen pak", ujar sang penjaga. Lucujuga kalimat ini diucapkan olehnya. Terbayang besok sore harus antri lagi berjam jam.
Lengkap sudah penderitaanku.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak masuk kantor. Walaupun aku tak memerlukan alasan untuk bolos, kupikir kali ini kuperlu memberikan surat ijin. Ku sinyalir mungkin bukan bangsaku yang sakit, melainkan diriku. Kuambil secarik kertas dan kutulis,Ijin tidak masuk hari ini UFN (until further notice).
Alasan: SAKIT JIWA.

29 SEP 05
LYAZZKI

0 Comments:

Post a Comment

<< Home